Energi dan Kita

Ilustrasi potensi PLTS dalam rangka penerapan energi hijau di daerah (Foto by JasaTirta Energi)

Oleh: Dr. Etty Susilowati

Dibutuhkan banyak energi untuk mewujudkan apa yang kita rencanakan. (anonim)

JASATIRTA ENERGI – Sony belum lama ini memutuskan untuk berternak ikan. Dengan memanfaatkan pekarangannya yang luas di kawasan Gandul Cinere, Depok, Jawa Barat, ia mencoba melakukan bisnis baru di masa pandemi Covid-19 yang mendera Indonesia sejak awal 2020.

Lelaki separuh baya ini beruntung. Ikannya bisa cepat berkembang biak. Beberapa kolam dan tempat penampungan ikan kini dijejali sekitar 4.000 ekor ikan air tawar dari berbagai jenis.

Suatu saat ia sedang membersihkan kolam ikannya, ia melihat ikannya megap-megap seperti  kekurangan  oksigen.  Ya,  saat proses pembersihan berlangsung, ia baru saja sekitar 15 menit mematikan pompa aır dan alat penyuplai oksigen ke dalam air.

Ia teringat peristiwa beberapa tahun lalu, saat di kawasan Cinere, aliran listrik padam hampir satu jam. Meski kawasan Cinere jarang terjadi pemadaman listrik oleh  PLN,  namun bukan tak mungkin peristiwa serupa terjadi lagi. Kalau saja peristiwa padam listrik dalam rentang waktu cukup lama terjadi lagi, lalu bagaimana nasib ribuan ikan ternak  itu.  Begitu terlintas di benak Sony.

Ia lalu memutuskan untuk bertindak preventif. Ia mencoba membangun pembangkit listrik tenaga surya. Berbekal hobi elektronika sejak masa SMP plus belajar otodidak melalui internet, Sony lalu mencoba merakit sendiri pembangkit listrik tenaga surya itu.

Walhasil, kini ia telah memiliki PLTS. Lega rasanya karena masa depan usaha ternak ikannya akan terlindungi dari kemungkinan krisis energi listrik. Meski telah menghabiskan investasi tambahan sekitar Rp30 juta, tapi ia yakin akan kembali modal setelah 5-7 tabun, Ini bisa terjadi karena ternyata tagihan listrik di rumahnya juga bisa berkurang hingga 30 persen.

“Sebenarnya PLTS saya memiliki kemampuan  hingga  3.000 watt. Namun karena keterbatasan dana terutama  untuk membeli perlengkapan untuk menampung energi yang berhasil diserap dari matahari, kemampuan yang ada saat ini baru untuk pemakaian 1,000 watt saja,” cerita Sony.

Berbeda dengan Sony yang belum lama menggunakan listrik tenaga surya untuk mendukung bisnisnya, seorang eksekutif profesional yang bermukim di bilangan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, memanfaatkan energi surya untuk kebutuhan sehari- hari di rumahnya.

Jika Sony belum lama memanfaatkan listrik tenaga surya, maka Nelwin Aldriansyah — nama eksekutif profesional itu — sudah menggunakannya sejak 2016. Seperti ini ceritanya.

Awal 2016 Nelwin mendapat informasi dari bosnya yang baru saja memasang solar panel di rumahnya. Nelwin pun tartarik mempelajari tentang pembangkit listrik tenaga surya (PLTS), terutama PLTS Atap.

Ia lalu bergabung dengan komunitas Perhimpunan Pengguna Listrik Surya Atap (PPLSA) di Facebook pada Maret 2016. Dari pembicaraan dengan sesama anggota komunitas, Nelwin mendapat pencerahan tentang bagamana menghitung kebutuhan solar panel di rumah. Penghitungan bukan berdasarkan berapa banyak daya listrik PLN yang terpasang di rumah, namun berdasakan rata-rata tagihan per bulan. Dari penghitungan tersebut, ia menjadi tahu berapa banyak solar panel yang dibutuhkan agar 100 persen kebutuhan listrik di rumah bisa terpenuhi.

“Jika investasinya dirasakan cukup besar, maka kita bisa pasang 50 persen. Sehingga secara teoritis biaya pemakaian listrik bisa turun separuh dari tagihan listrik biasanya,” jelas Nelwin.

Kebetulan saat itu PPLSA sedang memfasilitasi anggotanya dengan “program pembelian bersama” solar panel dan inverter yang akan mengubah energi surya menjadi listrik. Nelwin pun ikut serta dalam program itu.

Saat itu harga solar panel USD1 per 1 watt peak (WP). Nelwin memesan solar panel 5.200 WP. Jadi ia menyiapkan dana sekitar USD5,200. Plus sejumlah dana lainnya untuk biaya instalasi.

Barang pesanan itu pun tiba pada Juli 2016. sedangkan instalasi PLTS Atap di rumahnya baru terjadi pada Agustus 2016. Hanya butuh waktu satu hari saja untuk pemasangan solar panel tersebut.

Agar panel surya bisa terpasang dengan baik, Nelwin menggunakan jasa kontraktor. Setelah kontraktor datang ke rumah untuk melihat kondisi atap agar bisa memastikan berapa banyak penopang solar dan kabel yang dibutuhkan, mereka lalu menyampaikan proposal penghitungan biaya.

Kontraktor juga membantu mengurus perizinan ke PT PLN (Persero). Setelah mendapat izin, PLN akan  mengeluarkan sertifikat  layak  instalasi.  PLN  pun   akan   mengganti  meteran daya listrik biasa dengan meteran exim (export-import).

Tagihan listrik pun akan berubah pencatatannya. Jika selama ini hanya tercatat berapa banyak daya listrik yang kita ambil dari PLN, maka meteran exim ini juga mencatat berapa banyak daya listrik hasil produksi surya panel yang diambil oleh PLN. Jadi pemilik PLTS Atap hanya membayar  tagihan  berdasarkan selisih export-import daya listrik antara pengguna dan PLN.

Saat melakukan instalasi PLTS Atap di rumahnya, Nelwin memang memilih metode on grid. Artinya dia tetap akan memakai listrik dari PLN pada malam hari.

Berbeda dengen sistem off grid yang sama sekali listrik di rumahnya tidak terhubung dengan jaringan PLN.  Jika  ia memilih sistem off grid, berarti Nelwin harus menyiapkan baterai untuk menampung energi yang berasal dari surya untuk digunakan pada malam hari. “Harga baterai untuk menampung listrik saat ini masih mahal. Jadi saya memilih sistem on grid,” jelas Nelwin.

Jadi, berapa banyak biaya yang dikeluarkan Nelwin untuk kebutuhan ini?

Mari kita hitung bersama:

  1. Pembelian solar panel dan inverter = Rp75.000.000.
  2. Instalasi = Rp20.000.000
  3. Penggantian meteran listrik = Rp 3.000.000

Jadi total biaya yang Nelwin keluarkan berkisar Rp100.000.000.

Setelah merasakan manfaat ekonomis dari kepemilikan PLTS Atap di rumahnya, empat tahun kemudian, tepatnya awal 2020, ia memutuskan untuk menambah panel suryanya menjadi dua kali lipat. Dengan demikian, kemampuan produksi panel suryanya kini bisa mencapai 10.400 WP. Jika tahap awal area terpasang solar panel di atap rumahnya mencapai 30 m2, kini sudah meluas lebih dari 60 m2. Selain itu, ada satu hal menarik: harga pembelian panel surya kini 30 persen lebih murah dibandingkan harga pembelian pada 2016

Dengan memasang tambahan panel surya dua kali lipat ini, Nelwin berharap penghematan biaya listrik mencapai 100 persen. Namun gara-gara pandemi Covid-19, pemakaian daya listrik di rumahnya juga jadi meningkat. Ini terjadi karena ia bersama istri dan anak-anaknya lebih banyak beraktivitas di dalam rumah. Walhasil konsumsi listrik pun meningkat.

Meski demikian, penambahan instalasi solar panel ini telah membuat tagihan listriknya lebih hemat 70 persen bila dibandingkan dengan biaya sebelum ada instalasi PLTS Atap.

Nelwin yakin bila pandemi telah berlalu, kehidupan masyarakat kembali normal, ia bisa menghemat  tagihan  listrik  PLN  hingga 100 persen.

Dari kisah nyata di atas, terlihat ada energi terbarukan yang berasal dari tenaga surya dimanfaatkan oleh perorangan. Sudah terbukti terjadi efisiensi dalam pengeluaran biaya listrik ke PLN. Meski perlu biaya modal tak sedikit.

Memang tantangan terbesar transisi energi  konvensional menuju energi terbarukan adalah investasi yang  besar. Terutama bagi perusahaan yang konsumsi listriknya besar.

Namun masalah ini kini sudah ada solusinya. Sejumlah perusahaan bidang energi terbarukan memberikan  solusi berupa program leasing yang memungkinkan  klien memproduksi energi terbarukan tanpa investasi. Klien hanya membayar energi yang dihasilkan dari panel surya yang mereka bangun dengan tarif di bawah tarif dasar listrik PLN. Sehingga dipastikan akan terjadi penghematan biaya listrik.

Misalnya suatu perusahaan membayar biaya listrik ke PLN Rp100.000.000 per bulan. Namun setelah instalasi pembangkit listrik tenaga surya, biaya listrik ke PLN Rp 50.000.000 per bulan, dan biaya listrik ke perusahaan kontraktor Rp 35.000.000 per bulan. Jadi total biaya listrik Rp85.000.000 per bulan. Jumlah penghematan Rp15.000.000 atau 15% per bulan.

Bagaimana caranya jika ingin menjadi klien perusahaan energi terbarukan ini?

Gampang saja. Cukup kirim tagihan listrik tiga bulan terakhir, serta Google Maps posisi properti. Kontraktor lalu mengirimkan proposal desain awal. Setelah  mendapat  persetujuan, kontraktor akan survei daya listrik selama satu pekan. Setelah selesai, kontraktor mengirimkan desain final dan kontrak jangka waktu tertentu. Seluruh biaya instalasi dan pemeliharaan akan menjadi beban perusahaan kontraktor.

Setelah kontrak tersebut ditandatangani, perusahaan kontraktor akan mendatangkan modul dan melakukan pemasangan. Beres.

Bersambung….

Leave A Comment

At vero eos et accusamus et iusto odio digni goikussimos ducimus qui to bonfo blanditiis praese. Ntium voluum deleniti atque.

X