Matahari, di Sepanjang Sejarah Panel Surya

PLTS JTE Papua

JASATIRTAENERGI – Matahari merupakan sumber energy di tata surya dunia ini. Tak dapat dipungkiri, keberadaan matahari di antara tata surya menjadi jantung perputaran tata surya sehingga terciptanya kehidupan di muka bumi. Dari sekian banyaknya kebutuhan energy, dari waktu ke waktu manusia melakukan pencarian dalam memenuhi kebutuhan kehidupan. Dari sekian banyak penemuan umat manusia di muka bumi ini, akhirnya matahari yang selama ini belum maksimal dimanfaatkan, kembali menjadi focus untuk dikembangkan pemanfaatannya.

Berjalan waktu, manusia terus melakukan penelitian demi penelitian untuk mengembangkan bagaimana energy matahari yang diketahui hanya sebagai energy cahaya yang dimanfaatkan dalam beberapa aplikasi saja, akhirnya dikembangkan hingga menelurkan panel surya.

Berdasarkan catatan sejarah, teknologi panel surya bahkan sudah ada di abad ke-18, tepatnya pada tahun 1839 seorang ahli fisika asal Perancis bernama Alexandre Edmund Becquerel pertama kali mencetuskan teknologi panel surya, dengan mengaplikasikannya menjadi energy listrik.

Dalam sejarahnya, awal dari penemuan listrik tenaga matahari ini adalah ketika seorang ahli fisika asal Prancis yang bernama Alexandre Edmond Becquerel pada tahun 1839. Awal penelitiannya, dia mencoba menyinari dua buah electrode dengan berbagai macam cahaya, cahaya api, serta cahaya lainnya, tetapi sayang, masih belum menemukan hasil yang diharapkan.

Bertahun-tahun Edmund melakukan penelitian untuk dapat memaksimalkan energy matahari yang berupa cahaya untuk diubah menjadi energy. Namun saying, hingga akhir hayatnya Edmund belum mendapatkan hasil yang diinginkan.

Berjalannya waktu, setelah 34 tahun berlalu, semangat Edmund kembali menyala. Tepatnya pada tahun 1873, seorang ilmuan bernama Willoughby Smith mnemukan selenium yang berfungsi sebagai suatu elemen photo conductivity. Membawa sedikit angin segar dan harapan agar cahaya menghasilkan energi dapat terwujud.

Terinspirasi dari Alexandre Edmund Becquerel, pada tahun 1876 william Grylls bersama dengan muridnya Richard Evans day mengungkapkan bahwa selenium dapat mengubah tenaga matahari secara langsung menjadi listrik tenpa ada bagian bergerak atau panas.

Hingga pada tahun 1883 charles Fritz mencoba melakukan penelitian dengan melapisi semikonduktor selenium dengan lapisan emas yang sangat amat tipis. Photovoltaic yang dibuatnya menghasilkan efisiensi kurang dari 1%.

Perkembangan-perkembangan terus berlanjut, memakan waktu cukup lama. Perkembangan berikutnya, berhubungan dengan penemuan Albert Einstein tentang efek Fotolistrik pada tahun 1904. Berlanjut cukup lama, pada tahun 1927, photovoltaic (tenaga surya) dengan tipe yang baru dirancang menggunakan tembaga dan semi konduktor copper oxide. namun kombinasi ini juga hanya bisa menghasilkan efisiensi masih kurang dari 1%.

Pada tahun 1941, seorang peneliti bernama Russel Ohl berhasil mengembangkan teknolgi sel surya dan dikenal sebagai orang pertama yang membuat paten peranti panel surya modern. Bahan yang digunakannya ketika itu adalah semi konduktor berjenis silicon dan mampu menghasilkan efesiensi berkisar 4%.

Karena para ilmuan sudah mendapat pencerahan dan mulai menemukan hasil, dengan berpatokannya pada teori enstein, banyak ilmuan dari berbagai negara (kecuali Indonesia) yang kembali mencoba mengembangkan teori tersebut.

Hingga pada akhirnya, pada tahun 1954 Pihak Bell Laboratories berhasil menemukan lempeng yang sangat tepat untuk digunakan sebagai bahan dasar cikal bakal panel surya. Penemuan yang dilakukan oleh Gerald Pearson, Daryl Chapin, dan Souther Fuller secara tidak sengaja menemukan bahwa silicon yang digabungkan dengan unsur-unsur di dalam logam utama yang dihasilkan dari pross ekstraksi ternyata sensitif terhadap cahaya.

Luar biasanya, hasil penemuan tiga ilmuan hebat ini yang kemudian menjadi tonggak penggunaan dan pengembangan teknologi panel surya sampai saat ini. Yang mana, perjalanan tenaga matahari melalui panel surya hingga dapat digunakan memakan waktu yang cukup lama yaitu 115 tahun demi menemukan tonggak awal dari panel surya yang sekarang banyak digunakan dinegara-negara maju.

Hingga di masa modern ini, pemanfaatan energy matahari terus dilakukan. Seperti diketahui, dari pembangkit listrik yang dihasilkan dapat dimanfaatkan untuk industry manufactur, industry makanan dan minuman, otomotif, kesehatan dan lain-lain. Namun seperti diketahui, energy alam yang sanagt melimpah di tanah air, belumlah dimanfaatkan secara maksimal. Baik dari segi tata aturan, produk, masyarakat Indonesia masih perlu belajar dan memahami, bagaimana Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) menjadi pembangkit yang ramah lingkungan, khususnya dalam rangka menjaga bumi ini tetap hijau, karena PLTS diakui sebagai pembangkit yang ramah lingkungan.

Matahari masih terus bersinar, harapan itu masih ada. Jika ingin menyelamatkan bumi ini, menjadi tanggung jawab bersama dalam menjaganya. PLTS memang bukan satu pilihan, namun dari sekian banyak hal yang dapat dilakukan, PLTS menjadi salah satu solusi dalam kebutuhan umat manusia dalam pengadaan energy.

Sumber: Berbagai sumber

Leave A Comment

At vero eos et accusamus et iusto odio digni goikussimos ducimus qui to bonfo blanditiis praese. Ntium voluum deleniti atque.

X